...
|
Lintasarta

Pertama di Indonesia, Lintasarta Raih Sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk AI Management System

TÜV SÜD Indonesia menyebut pencapaian ini menjadikan Lintasarta sebagai perusahaan ICT nasional pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi tersebut, mencakup tiga peran sekaligus sebagai AI provider, developer, dan user.
Lintasarta meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk Artificial Intelligence Management System (AIMS) dari TÜV SÜD Indonesia. Sertifikasi ini menjadi acuan Lintasarta dalam mengelola risiko dan tata kelola kecerdasan buatan (AI) secara sistematis, di tengah pemanfaatan AI yang terus tumbuh dalam layanan digital dan operasional bisnis pelanggan korporasi di Indonesia.
Menurut TÜV SÜD Indonesia, pencapaian ini menjadikan Lintasarta perusahaan ICT nasional pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023. Scope sertifikasi mencakup peran Lintasarta sebagai AI provider, developer, dan user, meliputi penyediaan GPU Services dan LLM Services, serta pengembangan dan pengoperasian AI-powered virtual assistant untuk layanan pelanggan.
ISO/IEC 42001:2023 adalah standar internasional yang mengatur bagaimana organisasi membangun, menjalankan, dan terus memperbaiki sistem manajemen AI. Standar ini membantu perusahaan mengelola risiko dan peluang AI secara terstruktur, sekaligus membangun praktik AI yang transparan dan akuntabel.
President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan mengatakan, sertifikasi ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari perjalanan Lintasarta membangun kapabilitas mengelola AI secara bertanggung jawab. “AI berkembang dengan sangat cepat dan telah menjadi bagian dari proses bisnis, layanan, produktivitas, hingga penciptaan value bagi pelanggan. Karena itu, semakin besar kapabilitas AI yang kita bangun, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. ISO/IEC 42001:2023 memberikan fondasi agar inovasi dapat terus berjalan dengan governance, risk management, accountability, dan continuous improvement yang lebih sistematis,” ujar Armand.
Armand menambahkan, penerapan responsible AI turut mempertimbangkan aspek keamanan, privasi dan perlindungan data, akurasi, fairness, intellectual property, compliance, serta reputasi perusahaan. “Governance bukan untuk menghambat inovasi. Justru governance yang baik memberikan pagar pengaman agar inovasi AI dapat berkembang lebih terarah dan terukur, sekaligus memberikan value yang lebih besar bagi pelanggan, bisnis, dan pemangku kepentingan,” kata Armand.
President Director TÜV SÜD Indonesia Yuan Handayana mengatakan, penerapan ISO/IEC 42001:2023 menunjukkan pentingnya tata kelola AI yang tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi, tetapi juga memperhatikan pengelolaan risiko serta kepercayaan pemangku kepentingan. “AI terus berkembang dan menghadirkan peluang besar bagi organisasi, namun pemanfaatannya juga membutuhkan pengelolaan yang bertanggung jawab. Lintasarta menunjukan komitmennya dalam membangun kapabilitas responsible AI yang terstruktur dan dapat dipercaya. Kami berharap pencapaian ini dapat menjadi bagian dari kontribusi Lintasarta dalam mendorong pemanfaatan AI yang bertanggung jawab dan mendukung transformasi digital industri nasional.” ujar Yuan.
Proses sertifikasi melibatkan gap assessment, penyusunan kebijakan dan prosedur, manajemen risiko AI, implementasi kontrol, hingga audit internal. Audit sertifikasi oleh TÜV SÜD Indonesia berlangsung dua tahap: Stage 1 readiness review dan Stage 2 certification audit, dengan hasil tanpa temuan minor maupun major.
Lintasarta menegaskan sertifikasi ini sebagai fondasi, bukan tujuan akhir. Perusahaan akan terus memperkuat AI risk and impact management serta membangun AI culture and capability, sejalan dengan perannya mengintegrasikan connectivity, cloud, cybersecurity, dan collaboration-AI melalui Lintasarta Intelligent Core untuk mendukung kedaulatan digital dan transformasi industri nasional.