...
|
Lintasarta

Lintasarta dan #AksiCintaBumi: Ketika E-Waste Menjadi Sumber Nilai dalam Ekonomi Sirkular

Ketika sebuah ponsel lama masuk ke tempat sampah, yang hilang bukan hanya sebuah perangkat. 

Di dalamnya terdapat material yang masih memiliki nilai. 

Ada tembaga, emas, perak, paladium, dan berbagai material lain yang dapat dipulihkan dan kembali digunakan. 

Karena itu, e-waste semakin banyak dilihat bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi sirkular. 

USD 91 miliar yang tersembunyi dalam e-waste 

Menurut Global E-waste Monitor 2024, 62 juta ton e-waste yang dihasilkan dunia pada 2022 mengandung material mentah dengan nilai sekitar USD 91 miliar. 

Namun, hanya sekitar USD 28 miliar yang berhasil dipulihkan dan kembali masuk ke siklus ekonomi sebagai bahan baku sekunder.  

Angka tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan besar antara nilai yang terkandung dalam e-waste dan nilai yang berhasil dipulihkan. 

Inilah salah satu alasan mengapa e-waste sering disebut sebagai urban mining atau “tambang perkotaan”. 

Bukan karena perangkat elektronik sama dengan tambang, tetapi karena material berharga yang ada di dalamnya dapat dipulihkan tanpa harus selalu mengambil material baru dari alam. 

Daur Ulang Bukan Selalu Langkah Pertama 

Ketika membicarakan ekonomi sirkular, kata yang paling sering muncul adalah “recycle”. 

Padahal, prinsip ekonomi sirkular lebih luas dari sekadar mendaur ulang. 

Urutannya dapat dimulai dari: 

Mengurangi — barang yang tidak dibeli tidak akan menjadi limbah. 

Memperpanjang usia pakai — perangkat yang dirawat dengan baik dapat digunakan lebih lama. 

Memperbaiki — perbaikan mempertahankan nilai fungsional perangkat. 

Menggunakan kembali atau refurbish — perangkat dapat memperoleh second life. 

Mendaur ulang material — ketika fungsi perangkat sudah tidak dapat dipertahankan, materialnya dapat dipulihkan.  

Perbedaannya penting. 

Sebuah laptop yang masih berfungsi memiliki nilai sebagai alat kerja. Ketika laptop tersebut langsung dibongkar, nilai yang tersisa terutama adalah nilai materialnya. 

Karena itu, ekonomi sirkular berusaha mempertahankan nilai dan fungsi selama mungkin. 

Di mana nilai tersebut bisa hilang?  

Perangkat yang langsung masuk jalur scrap dapat kehilangan nilai fungsionalnya. Konsumen juga sering tidak memiliki akses mudah untuk mengembalikan perangkat. 

Selain itu, pengelolaan informal dapat mengambil material tertentu tanpa memulihkan keseluruhan nilai perangkat dan sekaligus menimbulkan risiko terhadap lingkungan maupun pekerja.  

Dalam pengelolaan aset korporat Lintasarta, dokumen rujukan menjelaskan bahwa penentuan harga jalur scrap dan lelang mempertimbangkan jenis material, berat, serta harga material di pasar. Untuk jalur resale, pertimbangannya berbeda, antara lain nilai buku, kondisi perangkat, harga pasar, dan appraisal.  

Perbedaan tersebut memperlihatkan satu hal penting: sebuah perangkat memiliki lebih dari satu jenis nilai. 

Ada nilai material. 

Ada nilai fungsional. 

Dan ada pula nilai sosial. 

Nilai sosial yang sering tidak terlihat  

Sebuah perangkat yang masih layak digunakan dapat memiliki nilai bagi seseorang yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap teknologi. 

Perangkat refurbished yang digunakan untuk pendidikan, misalnya, dapat membantu memperluas akses digital. Rantai pengelolaan e-waste juga menciptakan aktivitas ekonomi melalui pengumpulan, pemilahan, perbaikan, hingga pengolahan material. 

Dengan kata lain, ekonomi sirkular tidak hanya berbicara tentang “mengurangi sampah”. 

Ia juga berbicara tentang mempertahankan nilai, menciptakan kesempatan, dan memperluas manfaat.  

#AksiCintaBumi: langkah kecil menuju siklus yang lebih bertanggung jawab 

Melalui #AksiCintaBumi, Lintasarta menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste selama Agustus–November 2026. 

Angka tersebut memang kecil jika dibandingkan dengan skala e-waste nasional. 

Namun, ukuran keberhasilan sebuah gerakan tidak hanya berada pada berapa kilogram yang dikumpulkan. 

Yang tidak kalah penting adalah perubahan perilaku: dari menyimpan menjadi menyerahkan, dari membuang menjadi memilah, dan dari melihat perangkat sebagai sampah menjadi melihatnya sebagai bagian dari sebuah siklus. 

Inilah semangat Lintasarta Peduli Negeri. 

Mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana membuang perangkat ini?” 

Tetapi mulai bertanya: 

“Bagaimana agar nilai yang masih ada di dalamnya dapat terus memberikan manfaat?” 

Karena ketika teknologi terus berkembang, keberlanjutan bukan berarti menghentikan inovasi. 

Keberlanjutan berarti memastikan inovasi hari ini tidak menjadi beban bagi masa depan. 

#AksiCintaBumi — Transforming E-Waste, Empowering Our Future, Empowering Indonesia.