...
|
Lintasarta

Lintasarta dan #AksiCintaBumi: Mengapa e-waste yang Tersimpan perlu mendapat perhatian?

Ada satu jenis sampah yang mungkin tidak terlihat setiap hari, tetapi jumlahnya terus bertambah: limbah elektronik atau electronic waste (e-waste). 

Coba buka kembali laci meja, lemari, atau gudang di rumah. Mungkin ada ponsel lama, charger yang sudah tidak digunakan, earphone rusak, kabel, hard disk, atau perangkat elektronik lain yang masih disimpan. 

Bukan karena barang-barang tersebut masih digunakan. Sering kali, kita hanya belum tahu harus membawanya ke mana. 

Persoalan kecil di rumah ini menjadi jauh lebih besar ketika terjadi secara bersamaan pada jutaan orang. 

Indonesia dan tantangan e-waste 

Menurut Global E-waste Monitor 2024 yang disusun International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), dunia menghasilkan 62 juta ton limbah elektronik pada 2022. Dari jumlah itu, hanya 22,3 persen yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dengan cara yang ramah lingkungan. Sisanya, Sebanyak 77,7 persen  belum tercatat sebagai e-waste yang dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dan ramah lingkungan. 

Indonesia menyumbang sekitar 1,9 juta ton pada tahun yang sama, menjadikannya salah satu penghasil e-waste terbesar di dunia. Angkanya terus bertambah. Secara global, timbulan e-waste naik sekitar 2,6 juta ton setiap tahun, dan diproyeksikan mencapai 82 juta ton pada 2030. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan e-waste bukan sekadar persoalan membuang barang yang sudah tidak digunakan. Ia merupakan bagian dari tantangan lingkungan yang muncul seiring semakin cepatnya perkembangan teknologi. 

Mengapa e-waste berbeda dari sampah lain? 

E-waste memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sampah rumah tangga biasa. 

Di satu sisi, perangkat elektronik dapat mengandung material yang berbahaya apabila tidak dikelola dengan benar. Baterai, papan sirkuit, dan sejumlah komponen elektronik dapat mengandung bahan yang berisiko terhadap lingkungan dan kesehatan jika dibongkar atau dibakar secara sembarangan. 

Di sisi lain, perangkat elektronik juga menyimpan material yang masih memiliki nilai, seperti tembaga, emas, perak, dan paladium. 

Global E-waste Monitor 2024 memperkirakan nilai material mentah yang terkandung dalam 62 juta ton e-waste dunia pada 2022 mencapai sekitar USD 91 miliar. Namun, hanya sekitar USD 28 miliar yang berhasil dipulihkan sebagai material sekunder.  

Artinya, sebuah perangkat yang dianggap “sudah menjadi sampah” sebenarnya masih memiliki nilai. 

Mengapa perangkat lama sering berakhir di laci? 

Menariknya, tantangan e-waste tidak selalu muncul karena orang tidak peduli terhadap lingkungan. 

Ada persoalan yang jauh lebih sederhana: tidak tahu harus berbuat apa. 

Tidak semua orang mengetahui lokasi pengumpulan e-waste. Sebagian masih khawatir mengenai data pribadi yang tersimpan di perangkat. Sebagian lainnya berpikir perangkat tersebut mungkin masih akan digunakan suatu hari nanti. 

Karena itu, membangun sistem pengumpulan yang mudah dijangkau dan memberikan informasi yang jelas menjadi bagian penting dari solusi. 

Ketika transformasi digital meninggalkan jejak fisik  

Dalam konteks Lintasarta, hubungan antara perkembangan teknologi dan jejak fisik tersebut dapat dilihat melalui Lintasarta Intelligent Core, fondasi yang mengintegrasikan Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI. Di balik layanan digital tersebut terdapat infrastruktur fisik seperti server, GPU, storage, perangkat jaringan, dan berbagai perangkat pendukung yang memiliki siklus hidup masing-masing. 

Karena itu, membangun ekosistem digital bukan hanya tentang menghadirkan teknologi yang semakin maju, tetapi juga tentang memastikan perangkat yang menopangnya dikelola secara bertanggung jawab ketika mencapai akhir masa pakainya. Di sinilah isu e-waste menjadi relevan bagi perusahaan teknologi seperti Lintasarta. 

Langkah Lintasarta melalui #AksiCintaBumi 

Kesadaran tersebut menjadi salah satu konteks hadirnya #AksiCintaBumi, bagian dari Lintasarta Peduli Negeri melalui Pilar Cinta Bumi. 

Dalam program yang berlangsung sepanjang Agustus–November 2026, Lintasarta bersama EwasteRJ menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste. Program ini menyediakan lima titik drop box yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk di lingkungan Lintasarta, Universitas Indonesia, dan SMA Labschool Cirendeu.  

Target 380 kilogram tentu tidak akan menyelesaikan persoalan 1,9 juta ton e-waste Indonesia. 

Namun, setiap perubahan besar membutuhkan langkah yang dapat dilakukan. 

Dan mungkin langkah tersebut sesederhana membuka laci, mengambil perangkat yang sudah lama tidak digunakan, lalu memastikan perangkat tersebut masuk ke jalur pengelolaan yang tepat. 

Dari satu perangkat, menjadi satu aksi. Dari satu aksi, menjadi gerakan. 

Inilah semangat #AksiCintaBumi: mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata sebagai bagian dari komitmen Lintasarta Peduli Negeri untuk terus Empowering Our Future dan Empowering Indonesia.