...
|
Lintasarta

Lintasarta #AksiCintaBumi: Ke Mana Perginya Perangkat Elektronik Setelah Masuk Drop Box?

Menyerahkan ponsel lama, laptop, kabel, atau perangkat elektronik ke drop box seharusnya bukan menjadi akhir dari perjalanan. 

Justru, di situlah perjalanan baru dimulai. 

Salah satu alasan masyarakat ragu menyerahkan perangkat elektronik adalah pertanyaan sederhana: “Setelah saya masukkan ke sini, sebenarnya apa yang terjadi?” 

Pertanyaan tersebut penting. Pengelolaan e-waste yang bertanggung jawab membutuhkan transparansi mengenai ke mana perangkat pergi dan bagaimana perangkat tersebut diproses. 

Lima tahap pengelolaan e-waste 

Secara umum, pengelolaan e-waste yang bertanggung jawab meliputi beberapa tahapan. 

Pertama, pengumpulan. 

Perangkat dikumpulkan melalui titik yang mudah dijangkau dan dicatat berdasarkan jenis serta beratnya. 

Kedua, pemilahan. 

Perangkat dipisahkan berdasarkan kategori dan kondisinya. 

Ketiga, penilaian kelayakan. 

Pada tahap ini ditentukan apakah perangkat masih dapat diperbaiki dan digunakan kembali atau perlu masuk ke jalur pemulihan material. 

Keempat, refurbishment atau pemulihan material. 

Perangkat yang masih layak dapat diperbarui agar mendapatkan second life. Sementara perangkat yang tidak dapat digunakan kembali dapat diproses untuk mengambil material yang masih bernilai. 

Kelima, pengolahan akhir. 

Material yang tersisa perlu ditangani melalui pengelola yang memiliki izin sesuai ketentuan yang berlaku, khususnya untuk limbah yang termasuk kategori B3.  

Apa yang dilakukan Lintasarta? 

Dalam #AksiCintaBumi, Lintasarta menggandeng EwasteRJ, ekosistem dan komunitas ekonomi sirkular di Indonesia yang berfokus pada pengumpulan dan pengelolaan sampah elektronik. Program berlangsung Agustus–November 2026 dengan target pengumpulan 380 kilogram e-waste.  

Lima titik drop box 

Lokasi 

Wilayah 

Lintasarta HQ, Menara Thamrin 

Jakarta Pusat 

Lintasarta Office TB Simatupang 

Jakarta Selatan 

Lintasarta Warehouse Taman Tekno 

Tangerang Selatan 

Universitas Indonesia 

Depok, Jawa Barat 

SMA Labschool Cirendeu 

Tangerang Selatan 

 

Perangkat yang diterima mencakup kategori kecil seperti mouse, baterai, kabel, charger, dan earphone; kategori sedang seperti ponsel, tablet, laptop, hard disk, speaker, modem, dan CPU; hingga perangkat besar seperti televisi, kulkas, printer, dan monitor.  

Tidak semuanya harus berakhir sebagai sampah 

Ada tiga kemungkinan jalur setelah perangkat dikumpulkan. 

Refurbishment, jika perangkat masih memungkinkan untuk diperbaiki. 

Pemulihan material, apabila perangkat sudah tidak dapat digunakan kembali. 

Dan yang menarik, upcycling edukatif. 

Dalam #AksiCintaBumi, sebagian material akan ditransformasikan menjadi karya edukatif berbentuk Garuda dan Peta Indonesia, sebagai simbol Unity in Action 

Dengan demikian, e-waste tidak hanya berhenti sebagai persoalan angka. 

Ia dapat berubah menjadi media pembelajaran yang dapat dilihat, disentuh, dan dipahami oleh generasi muda. 

Mengapa transparansi penting? 

Program pengumpulan e-waste tidak cukup hanya menyediakan kotak. 

Ada tiga hal yang menentukan keberlanjutannya: akses terhadap titik pengumpulan, pengelola yang memiliki izin, dan informasi yang jelas mengenai perjalanan perangkat setelah diserahkan.  

Inilah salah satu pesan penting dari #AksiCintaBumi. 

Kepedulian terhadap bumi bukan hanya tentang membuang sesuatu pada tempat yang benar, tetapi juga memastikan bahwa setelah itu ada proses yang benar. 

Melalui Lintasarta Peduli Negeri, Lintasarta mengajak masyarakat dan generasi muda untuk melihat e-waste bukan sebagai akhir dari sebuah perangkat, melainkan bagian dari siklus baru. 

Transforming E-Waste, Empowering Our Future.