Dengan semakin terhubungnya kita ke dunia digital, ancaman siber bukan lagi sekadar risiko, tetapi kenyataan yang harus dihadapi. Bahkan bagi perusahaan, ancaman ini merupakan faktor risiko yang harus masuk dalam perhitungan bisnis.
Dari mulai serangan phishing yang licik hingga ransomware yang mengunci data berharga, ancaman siber terus berevolusi dan semakin kompleks, kondisi ini menuntut perusahaan untuk lebih proaktif dalam melindungi aset digital mereka dan menjaga keberlangsungan operasionalnya.
Menurut laporan IBM, di sepanjang tahun 2023, biaya rata-rata pelanggaran data global telah menghasilkan kerugian materi mencapai USD 4,45 juta. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 95% insiden siber tersebut disebabkan oleh kesalahan manusia atau faktor human error. Hal ini menunjukkan pentingnya kombinasi antara teknologi keamanan dan peningkatan kesadaran pengguna.
Di Indonesia, kasus seperti kebocoran data di Tokopedia tahun 2020, sebagai bukti betapa seriusnya tantangan ini. Maka dari itu, wajib bagi Anda untuk menyiapkan solusi keamanan yang tepat untuk menghadapi risiko siber.
Memahami Ancaman Siber yang Mengintai
Ancaman siber datang dalam berbagai bentuk, masing-masing dengan potensi kerusakan yang signifikan. Berikut adalah beberapa jenis ancaman yang umum dihadapi bisnis, sebagaimana dijelaskan oleh IBM.
- Phishing: Penyerang menyamar sebagai pihak terpercaya melalui email atau pesan untuk mencuri kredensial log in atau informasi sensitif. Sebanyak 80% serangan siber dimulai dari phishing.
- Ransomware: Malware yang mengenkripsi data dan menuntut tebusan untuk membukanya. Kasus WannaCry (2017) di Indonesia mengganggu sistem publik, menunjukkan dampaknya yang luas.
- Malware: Termasuk virus, worm, dan spyware merupakan serangan yang bersifat merusak atau mencuri data. Malware ini lebih sering menyerang dan menyebar melalui lampiran email berbahaya, sehingga meningkatkan risiko kebocoran data jika tidak diantisipasi.
- Social Engineering: Teknik manipulasi psikologis untuk mengeksploitasi kelemahan manusia, seperti memancing karyawan untuk mengklik tautan berbahaya dengan mengirim email hadiah undian dan lainnya.
- DDoS (Distributed Denial of Service): Serangan yang membanjiri sistem dengan lalu lintas, menyebabkan gangguan layanan. Serangan ini umumnya menargetkan situs web perusahaan besar.
Baca juga: Cybersecurity Berbasis Teknologi AI untuk Keamanan Data Perusahaan
Ancaman-ancaman ini tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga merusak reputasi dan menurunkan kepercayaan pelanggan. Oleh karena itu, penerapan strategi keamanan siber yang komprehensif adalah keharusan bagi setiap perusahaan.
Langkah Praktis untuk Melindungi Aset Digital
Mengelola ancaman siber memerlukan pendekatan berlapis yang mencakup teknologi, proses, dan edukasi karyawan. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan oleh bisnis untuk meningkatkan ketahanan digitalnya:
- Lakukan Penilaian Risiko Secara Berkala
Langkah pertama adalah memahami aset digital yang perlu dilindungi sesuai dengan skala prioritas. Data-data seperti data pelanggan, rahasia dagang, atau sistem operasional, sebaiknya disimpan dalam prioritas utama.
Anda juga harus menganalisis risiko kualitatif dan kuantitatif untuk mengevaluasi kemungkinan dan dampak ancaman siber. Identifikasi juga celah keamanan, seperti perangkat lunak yang belum diperbarui atau kata sandi yang lemah.
- Terapkan Multi-Factor Authentication (MFA)
Kata sandi saja tidak lagi cukup untuk melindungi aset digital. MFA menambahkan lapisan keamanan tambahan dengan meminta dua atau lebih faktor verifikasi, seperti kata sandi, kode OTP (One-Time Password), atau biometrik.
MFA merupakan salah satu perlindungan terkuat, bahkan elemen kunci dalam keamanan identitas digital, yang dapat mengurangi risiko peretasan hingga 99% karena penyerang sulit melewati beberapa lapis verifikasi.
- Gunakan Alat Pemantauan Keamanan
Sistem seperti Security Information and Event Management (SIEM) dan Intrusion Detection/Prevention Systems (IDS/IPS) memungkinkan pemantauan aktivitas secara real-time untuk mendeteksi indikasi serangan.
SIEM melindungi data Anda dengan cara menganalisis log jaringan untuk mendeteksi anomali, sementara IDS/IPS dapat memblokir ancaman secara otomatis. Hal ini dilakukan untuk membantu bisnis merespons insiden dengan cepat.
- Latih Karyawan tentang Kesadaran Keamanan
Kesalahan manusia adalah penyebab utama pelanggaran siber. IBM menyebut 95% kebocoran data disebabkan oleh kelalaian karyawan atau faktor human error, seperti mengklik tautan phishing dan lainnya.
Baca juga: Cara Tangkal Ancaman Siber dengan Pendekatan Multi-Layer
Untuk mengatasinya, adakan pelatihan rutin untuk meningkatkan kesadaran tim tentang cara mengenali email mencurigakan, menggunakan kata sandi kuat, menghindari perangkat USB tak dikenal dan lakukan simulasi phishing secara berkala.
- Perbarui Sistem dan Perangkat Lunak Secara Rutin
Pembaruan perangkat lunak atau patching merupakan perlindungan dengan cara menutup celah keamanan yang sering dieksploitasi peretas, sehingga celah-celah tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyerang sistem Anda.
Anda sangat disarankan untuk melakukan pembaruan otomatis untuk memastikan sistem selalu terlindungi dari ancaman terbaru. Anda juga harus melakukan pengujian penetrasi (penetration testing) secara berkala untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kerentanan sebelum dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
- Terapkan Enkripsi Data
Enkripsi melindungi aset digital saat disimpan (at rest) dan saat dikirim (in transit). Enkripsi end-to-end memastikan hanya pihak yang memiliki kunci dekripsi yang dapat mengakses data, bahkan jika terjadi kebocoran.
Ini sangat penting untuk melindungi data-data sensitif seperti informasi pelanggan atau transaksi keuangan dari pencurian data yang tidak hanya sekedar merugikan secara finansial, tapi juga bisa mencoreng nama baik perusahaan Anda.
- Buat Rencana Respon Insiden
Meski pencegahan diutamakan, kebocoran data tetap mungkin terjadi. Miliki rencana respon insiden yang jelas, termasuk tim tanggap darurat, prosedur penahanan, dan strategi pemulihan dengan menggunakan Disaster Recovery Plan (DRP).
Anda juga bisa memanfaatkan infrastruktur berbasis cloud yang menawarkan fleksibilitas dan keamanan tambahan. Layanan cloud ini memungkinkan penyimpanan data yang lebih aman, dihilangkan akses terkontrol, dan integrasi dengan mekanisme keamanan lain seperti MFA.
Peran MFA dalam Strategi Keamanan Siber
Multi-Factor Authentication (MFA) adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi aset digital. Dengan menggabungkan faktor seperti “sesuatu yang Anda tahu” (kata sandi), “sesuatu yang Anda miliki” (perangkat atau token), dan “sesuatu yang Anda adalah” (biometrik), MFA menciptakan penghalang kuat terhadap peretas.
Baca juga: Manfaat SOC Untuk Meningkatkan Visibilitas dan Kontrol Keamanan Siber
Misalnya, jika peretas mendapatkan kata sandi melalui phishing, mereka tetap tidak dapat mengakses akun Anda tanpa ‘faktor kedua’, seperti kode OTP yang dikirim ke ponsel pengguna atau konfirmasi yang langsung dikirim ke ponsel.
MFA merupakan faktor yang sangat penting, bahkan dalam beberapa kasus bisa sangat krusial untuk melindungi sistem seperti email, cloud storage, dan aplikasi bisnis.
Namun implementasi MFA bisa rumit tanpa solusi yang terintegrasi dengan baik. Banyak bisnis, terutama UMKM, menghadapi tantangan seperti biaya, kompleksitas teknis, dan resistensi pengguna yang merasa keberatan dengan langkah tambahan dalam proses login.
Di sinilah solusi MFA dari SQURA Lintasarta, hadir untuk menyederhanakan proses tanpa mengorbankan keamanan data Anda.
Layanan MFA ini hadir dengan menawarkan beberapa faktor autentikasi, seperti kata sandi, OTP melalui SMS atau aplikasi, dan biometrik, untuk memastikan hanya pengguna berwenang yang dapat mengakses sistem.
Layanan ini juga dapat diintegrasikan dengan layanan lainnya dari Lintasarta, menciptakan lingkungan keamanan yang holistik, dan lebih menjamin keamanan data Anda.
Jangan khawatir, layanan ini dirancang dengan antarmuka yang user-friendly, sehingga akan memudahkan karyawan non-teknis untuk mengadopsi sistem keamanan tanpa harus mengganggu alur kerja, atau mengikuti pelatihan tambahan.
Selain itu, masih banyak kelebihan lainnya dari layanan MFA dari Lintasarta ini. Maka dari itu, untuk mengetahuinya lebih lanjut tentang layanan yang bisa membantu melindungi aset digital, Anda bisa mengikuti tautan berikut ini.


