Transformasi digital sudah jadi keharusan bagi industri keuangan di Indonesia. Pasalnya, saat ini layanan perbankan semakin bergantung pada teknologi untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin cerdas.
Proses ini melibatkan penggunaan alat digital seperti aplikasi mobile, analitik data, dan sistem cloud. Namun tidak semua transformasi berjalan mulus, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan risiko.
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan saat industri keuangan ingin menjalankan transformasi digital.
- Infrastruktur Cloud & Arsitektur Hybrid
Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah menyiapkan infrastruktur cloud yang aman dan fleksibel. Belakangan ini banyak lembaga di industri keuangan yang mengadopsi hybrid cloud, yaitu kombinasi public cloud dan private cloud atau on-premise.
Model ini memungkinkan lembaga keuangan menjaga data sensitif tetap dalam lingkungan privat, sambil memanfaatkan keunggulan public cloud untuk fleksibilitas dan skalabilitas yang tinggi.
Infrastruktur hybrid membantu lembaga keuangan mengantisipasi lonjakan transaksi, sekaligus memastikan performa layanan tetap stabil.
- Keamanan & Kepatuhan Regulasi
Aspek berikutnya yang tidak dapat ditawar adalah keamanan dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku di daerah operasional. Data nasabah merupakan aset sangat berharga yang harus dijaga dari ancaman siber maupun penyalahgunaan.
Oleh karena itu, lembaga keuangan wajib mengimplementasikan kontrol berlapis, mulai dari enkripsi, firewall, segmentasi jaringan, hingga audit log. Selain itu, penerapan standar keamanan global sangat dibutuhkan untuk transaksi elektronik.
Baca juga: Cara Mengoptimalkan Proses Keuangan dengan Solusi Teknologi Cerdas
Kepatuhan terhadap regulasi nasional juga harus selalu diperhatikan, termasuk Undang-Undang Penguatan Sektor Keuangan dan UU-PDP.
- Integrasi Sistem Warisan & Modernisasi Aplikasi
Salah satu tantangan terbesar dalam transformasi digital adalah keberadaan legacy system. Banyak bank masih menggunakan core banking lama, sistem akuntansi tradisional, atau aplikasi transaksi internal yang penting tetapi tidak fleksibel.
Migrasi langsung semua sistem ke digital modern tentu berisiko besar. Solusi terbaik adalah pendekatan bertahap, yaitu integrasi melalui Application Programming Interface (API), middleware, atau microservices.
Dengan cara ini, sistem lama tetap berfungsi selama masa transisi, sementara layanan baru dapat berjalan paralel, mendorong inovasi berjalan lebih cepat dan aman.
- Pengalaman Nasabah & Antarmuka Multikanal
Di era digital seperti sekarang ini, kebanyakan nasabah kini menuntut layanan yang cepat, mudah, dan tersedia di berbagai kanal. Transformasi digital dalam industri keuangan harus berorientasi pada customer experience positif.
Aplikasi mobile banking, website, chatbot, dan platform digital lainnya harus menghadirkan layanan yang responsif, aman dan konsisten. Tidak hanya soal tampilan, melainkan juga kecepatan transaksi serta tingkat personalisasi.
Lembaga keuangan yang berhasil memberikan pengalaman terbaik akan lebih mudah membangun loyalitas serta meningkatkan penetrasi di pasar digital.
- Analitik Data, AI, & Model Risiko
Transformasi digital tidak hanya tentang pemindahan sistem konvensional ke cloud, melainkan juga bagaimana data dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan.
Untuk memudahkan hal ini, industri keuangan perlu memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) untuk mendeteksi potensi fraud, menilai kelayakan kredit, hingga menganalisis pola perilaku nasabah.
Baca juga: Bagaimana Transformasi Digital Digunakan di Sektor Keuangan?
Dengan data yang melimpah, keputusan dapat dibuat lebih cepat, akurat, dan berbasis data. Namun perlu diingat, implementasi AI butuh tata kelola data yang baik, validasi algoritma, serta monitoring model secara berkala agar hasil analitik tidak bias.
- Skalabilitas & Kesiapan Operasional
Transformasi digital dalam sektor keuangan harus mempertimbangkan aspek skalabilitas. Pasalnya, kebutuhan layanan bisa melonjak sewaktu-waktu, misalnya saat periode promosi, peluncuran produk baru atau musim transaksi tertentu.
Infrastruktur harus mampu menyesuaikan kapasitas tanpa mengganggu kinerja layanan. Selain itu, tim operasional juga sangat penting untuk selalu dipersiapkan.
Tim IT harus memiliki sistem pemantauan real-time, prosedur tanggap darurat, serta mekanisme pemulihan cepat dalam kondisi darurat. Dengan kombinasi ini, bank dapat menjaga layanan tetap andal dan aman meski beban transaksi meningkat.
- Kolaborasi Fintech & Ekosistem Digital
Kini ekosistem keuangan digital tidak lagi berdiri sendiri. Lembaga keuangan kini harus membuka diri terhadap kolaborasi penuh dengan lembaga atau perusahaan lain, seperti fintech, platform e-commerce, dan layanan digital lainnya.
Kolaborasi ini tidak hanya dapat membantu memperluas pasar, tapi juga membantu mempercepat pengembangan produk keuangan baru. Dengan pendekatan berbasis API, bank dapat terhubung lebih cepat ke berbagai mitra digital.
Namun perlu diingat, integrasi ini harus tetap memperhatikan aspek keamanan dan regulasi agar kolaborasi berjalan lancar, serta terpercaya di mata nasabah.
- Literasi Digital & Budaya Organisasi
Transformasi digital tidak akan berjalan sukses jika hanya berfokus pada teknologi. Faktor manusia dan budaya organisasi memegang peran yang sama pentingnya.
Baca juga: Menguak Potensi AI dalam Transformasi Industri Keuangan
Maka dari itu, pastikan karyawan mendapatkan pelatihan digital, pemahaman tentang keamanan siber, serta dorongan untuk beradaptasi dengan sistem baru. Selain itu, tim manajemen juga perlu menanamkan budaya inovatif yang berkesinambungan.
Literasi digital ini nantinya akan membantu memperkuat kepercayaan diri karyawan untuk melayani nasabah dengan teknologi modern, sehingga tercipta keselarasan antara teknologi, SDM dan budaya organisasi yang progresif.
Solusi Tepat Cloud di Industri Perbankan
Lintasarta melalui Cloudeka menghadirkan solusi cloud yang dirancang khusus untuk membantu mempercepat transformasi digital di industri keuangan, dengan produk layanan, seperti Deka Premium dan Deka Prime.
Cloudeka juga hadir dengan layanan Sovereign Cloud, untuk memastikan data disimpan, dikelola, dan diproses sesuai dengan hukum dan regulasi negara tempat data tersebut berada, sehingga risiko kebocoran atau akses tidak sah dapat diminimalkan.
Kehadiran teknologi terbaru tersebut memungkinkan bank atau lembaga keuangan bisa menjalankan transformasi ini dengan aman, patuh regulasi, dan tetap fleksibel.
Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun di bidang ICT, Lintasarta memahami kebutuhan unik di sektor perbankan Indonesia, mulai dari keamanan data, kepatuhan, hingga ketersediaan layanan yang andal.
Nah buat yang sedang merencanakan transformasi digital di perusahaan atau lembaga keuangan Anda, solusi Cloud untuk Industri Perbankan dari Lintasarta siap menjadi solusi terpercaya yang bisa diandalkan. Untuk informasinya, klik disini.

