Dunia teknologi terus bergerak dengan kecepatan kilat. Dari kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih hingga transformasi digital di berbagai sektor, pelaku industri harus siap beradaptasi untuk tetap kompetitif.
Menurut Gartner, tren teknologi seperti AI generatif, cloud computing, dan keamanan siber akan menjadi pendorong utama transformasi digital di tahun mendatang.
Di Indonesia, inisiatif seperti Making Indonesia 4.0 mendorong pelaku industri, khususnya sektor keuangan. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi secara penuh, guna meningkatkan efisiensi dan inklusi.
Berikut merupakan hal-hal penting yang dipersiapkan untuk menyambut tren teknologi 2025 oleh para pelaku industri.
- AI Generatif Mengubah Cara Bisnis Beroperasi
AI generatif, seperti yang digunakan dalam chatbot atau analitik prediktif, diprediksi akan mendominasi di 2025. AI generatif bahkan diprediksi dapat menggantikan hingga 67% jam kerja karyawan di sektor keuangan.
Baca juga: Cara Memanfaatkan Cloud Computing Untuk Maksimalkan Potensi Bisnis
Dalam industri perbankan, AI memungkinkan personalisasi layanan, seperti memberi rekomendasi produk keuangan berdasarkan pola transaksi nasabah, atau menganalisis pola keuangan nasabah untuk menurunkan resiko kredit macet.
- Cloud Computing untuk Fleksibilitas dan Skalabilitas
Cloud computing tetap jadi tulang punggung transformasi digital. Menurut cloudcomputing.id, hybrid dan multi-cloud menjadi pilihan utama untuk peningkatan efisiensi dan memperkuat keamanan data.
Dalam sektor keuangan, teknologi cloud memungkinkan bank menyimpan dan mengolah data dengan aman, mendukung aplikasi seperti mobile banking, dan memudahkan kolaborasi dengan fintech untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang inklusif.
- Keamanan Siber yang Lebih Canggih
Dengan meningkatnya ancaman siber, keamanan siber menjadi prioritas. Laporan OJK Institute (2025) menyebutkan bahwa risiko keamanan data adalah tantangan utama dalam adopsi teknologi digital di sektor keuangan.
Dalam hal ini, beberapa solusi, seperti Extended Detection and Response (XDR) dan enkripsi data, akan menjelma jadi hal yang sangat krusial, bahkan jadi standar keamanan untuk melindungi sistem perbankan dari serangan siber.
- Digital Banking dan Inklusi Keuangan
Tren perbankan digital terus melesat. Bank Indonesia mencatat transaksi digital banking di 2023 mencapai Rp.15.148,71 Triliun. Nilai mengalami kenaikan 12,83% secara tahunan, dengan penggunaan QRIS melonjak menjadi 87,90%.
Teknologi seperti electronic Know Your Customer (e-KYC) dan Open API, memungkinkan bank mampu menjangkau nasabah underbanked. Namun perlu dicatat, saat ini masih banyak bank yang masih dalam tahap transisi menuju bank digital.
- Kolaborasi dengan Fintech
Kolaborasi antara bank dan fintech merupakan kunci untuk inovasi dalam proses transformasi digital. Kerja sama lintas sektor memungkinkan bank mengembangkan layanan keuangan yang lebih cepat dan aman.
Baca juga: Bagaimana Pengaruh Cloud Computing Terhadap Ekspansi Bisnis?
Contohnya, Open Banking memungkinkan integrasi dengan aplikasi fintech, seperti pembayaran digital atau peer-to-peer lending, yang mampu menjangkau segmen pasar baru, terutama kamu muda yang umumnya sudah melek ekonomi digital.
Adopsi XDR Untuk Melindungi Data Nasabah
Meski peluangnya besar menanti, adopsi teknologi tidak lepas dari tantangan yang harus diselesaikan. Hingga saat ini, keterbatasan sumber daya, literasi digital yang rendah, dan risiko keamanan siber, masih jadi hambatan utama.
Selain itu, regulasi yang ketat di sektor keuangan menuntut kepatuhan yang cermat. Pelaku industri perlu bermitra dengan penyedia solusi IT terpercaya untuk mengatasi tantangan ini sambil memaksimalkan manfaat teknologi.
Salah satu yang direkomendasikan adalah Financial Industry Solution dari Lintasarta, Digital Core Banking, platform terintegrasi yang mendukung transformasi digital perbankan yang menawarkan integrasi dan fleksibilitas tinggi.
Digital Core Banking memungkinkan bank mengintegrasikan sistem inti dengan aplikasi modern seperti mobile banking dan e-KYC, mendukung transformasi digital dan Open Banking untuk kolaborasi dengan fintech.
Baca juga: e-KYC Biometrik, Metode Verifikasi Pelanggan di Masa Depan
Layanan ini juga memiliki arsitektur yang fleksibel dan Configuration Center yang dimiliki, memungkinkan penyesuaian yang cepat dan mudah dalam menanggapi permintaan akibat perubahan pesat di pasar keuangan
Untuk informasi lebih lanjut tentang Digital Core Banking dan layanan Financial Industry Solution dari Lintasarta, Anda bisa mengikuti tautan ini.

