06 Juli 2010 13:30
Samsriyono Nugroho, Direktur Utama PT Aplikanusa Lintasarta.
PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) selama ini bisa dikatakan sebagai salah satu primadona dari PT Indosat Tbk (Indosat) dalam menjual layanan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) untuk segmen korporasi.
Pada 2008, Lintasarta meraup pendapatan sekitar satu triliun rupiah, dan pada 2009 terjadi pertumbuhan 16 persen dengan pendapatan 1,235 triliun rupiah. Pada tahun ini, Lintasarta memiliki nakhoda baru, yakni Samsriyono Nugroho yang menggantikan Noor SDK Devi sebagai direktur utama. Samsriyono sebelumnya menjabat sebagai direktur usaha Samsriyono bertekad meneruskan pertumbuhan pendapatan sebesar 16 persen pada tahun ini. Bagaimana langkahnya, berikut petikan wawancaranya bersama wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto.
Bagaimana mewujudkan visi dan misi dari Lintasarta? Kami adalah perusahaan yang membidik segmen korporasi. Dalam menggarap segmen ini, kita harus adaptif dengan kebutuhan pasar. Segmen yang digarap di antaranya pemerintah, manufaktur, pertambangan, perbankan, dan nonlembaga keuangan. Dua segmen terakhir menyumbang hingga 50 persen bagi total pendapatan.
Solusi andalan kita adalah konektivitas, value added services (VAS), dan total solution. Konektivitas menyumbang 80 persen bagi pendapatan. Bagaimana dengan usaha kecil dan menengah (UKM)? Kami juga sedang mengarah menggarap pasar UKM karena sadar segmen ini memiliki daya tahan terhadap krisis. Sejauh ini fokusnya baru menawarkan komputasi awan di tataran infrastruktur, tetapi ke depan akan menyewakan juga aplikasi, bahkan membuat toko aplikasi.
Bicara aplikasi, apakah wajar ada juga aturan yang jelas tentang itu? Fungsi telekomunikasi mendorong bisnis tumbuh. Jika di infrastruktur itu jelas ada multiplier effect walau saham dikuasai oleh asing. Di aplikasi memang belum ada aturan yang jelas. Padahal, kreator Indonesia banyak berkarya di luar negeri dengan bayaran murah. Ini harus dilindungi oleh aturan yang jelas.
Lintasarta juga menjadi pemenang tender Internet kecamatan, apa dampaknya bagi perusahaan? Tender itu adalah melayani segmen pemerintah. Memenangi tender itu berdampak kepada pelanggan kami ikut bekerja sama menawarkan aplikasi bagi masyarakat perdesaan. Selain itu, kami memiliki kepercayaan jika infrastruktur dibuka di perdesaan, maka perekonomian akan ikut terangkat. Pada September nanti di wilayah Bali dan Nusa Tenggara akan beroperasi layanan tersebut.
Tetapi harus diingat, kami ini hanya penyedia akses dari desa ke link Internet di Jakarta. Sedangkan Internet port yang menghubungkan ke koneksi Internet internasional tendernya belum jalan. Alangkah baiknya kedua ini selesai berbarengan agar akses di desa itu optimal. Jika tidak, itu sama saja dengan local area network (LAN).
Bagaimana dengan pemanfaatan teknologi Wimax? Kami sudah menjalankan Wimax di 3,5 GHz sejak dua tahun lalu. Setelah adanya kebijakan migrasi ke 3,3Ghz, tahun lalu sudah dikomersialkan juga dengan 45 BTS di 20 kota. Layanan ini banyak menjadi virtual private network (VPN) bagi korporasi. Di teknologi ini kami juga banyak membimbing manufaktur lokal mengembangkan perangkat wimax yang ideal. Sayangnya, bandwitdh yang diberikan di spektrum ini belum ideal untuk memenuhi pelanggan korporasi yang haus data.
Sumber : Koran-jakarta.com
Back