Thursday, July 22, 2010 9:00 AM

Anda mungkin pernah membeli barang lewat situs eBay, Kaskus, atau mencari buku lewat Amazon. Memang benar, belanja lewat internet saat ini sedang mewabah di Indonesia. Anda mungkin tercengang melihat barang-barang yang dijual di berbagai marketplace itu karena hampir semua barang yang ditawarkan sulit dijum-pai di pusat-pusat perbelanjaan. Kegiatan belanja lewat internet atau dikenal dengan e-commerce tampaknya tidak akan berjalan datar di negara seperti Indonesia. Potensi bisnis melalui e-commerce yang begitu besar ini ditangkap oleh Lintasarta sebagai upaya untuk terus memperbaiki kualitas kegiatan ini di Indonesia, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasa ekspor. Melalui Creative Solution Award (CSA) 2, Lintasarta memilih tema e-commerce sebagai salah satu topik diskusi untuk mengumpulkan ide-ide kreatif dari masyarakat Indonesia agar e-commerce berjalan lebih baik dan lebih memudahkan penggunanya.
Budi Wiyono sebagai Market and Community Specialist Lintasarta memaparkan bahwa potensi e-commerce di Indonesia memang sangat besar, tidak hanya dilihat dari jumlah penduduk negara ini yang juga besar. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat para pebisnis di setiap daerahnya mencari cara untuk memasarkan produk-produknya sebagai cara yang murah dan tidak konvensional, salah satunya dengan berdagang lewat internet. “Penduduk Indonesia sudah sangat mengenal teknologi digital, dan sudah masuk sebagai pengguna social media tiga besar dunia. Hasil riset dari AC Nielsen dua tahun lalu juga menunjukkan, hampir separo pengguna Internet di Indonesia pernah melakukan transaksi online. Saat ini, bukan lagi masa pe-ngenalan (e-commerce), namun sudah masuk ke fase implementasi atau action,” ujar Budi ketika ditemui di kantor Lintasarta, awal Juli lalu.
Perkembangan e-commerce memang sangat pesat di Indonesia. Namun demikian, masih ada hambatan yang ditemui dalam pelaksanaannya. Pada tingkat kebijakan, hingga saat ini pemerintah belum secara serius mendukung kegiatan e-commerce, setidaknya dilihat dari tidak adanya kebijakan-kebijakan yang khusus dari pemerintah yang mendukung perkembangan e-commerce. Selain itu, belum ada deregulasi dari sistem teknologi informasi khususnya internet yang merupakan salah satu tulang punggung dari perkembang-an e-commerce, perbaikan sistem pabeanan dan deregulasi dalam ekspor-impor barang.
Selain itu, infrastruktur di Indonesia untuk mendukung e-commerce juga belum memadai, terutama masih minimnya koneksi internet yang masuk ke desa-desa di Indonesia. Sebagai langkah awal untuk memasyarakatkan internet di Indonesia, pemerintah saat ini memang tengah menyelenggarakan program internet kecamatan di 7.500 kecamatan di seluruh Indonesia. Hambatan lain adalah kurangnya kesiapan institusi keuangan di Indonesia untuk menjadi bank penyedia solusi pembayaran online dari transaksi e-commerce. Belum lagi masih kurangnya sumber daya manusia yang menguasai e-commerce secara menyeluruh serta faktor kemanan dan tindakan penipuan atau fraud.
Oleh karena itu, Lintasarta mencoba menghimpun berbagai masukan, ide serta saran untuk mencari pemecah-an dari berbagai hambatan dan permasalah-an yang dihadapi seputar e-commerce di Indonesia. Budi melanjutkan, saat ini sudah banyak ide yang diterima oleh Lintasarta, para peserta mengkritisi berbagai kegiatan e-commerce seperti kemudahan, sistem pembayaran, regulasi, fitur, pengiriman, edukasi, dan lain-lain, serta memberikan solusi bagaimana permasalah-an itu dipecah-kan. Peserta juga membuat contoh kasus dari portal e-commerce yang sudah ada sebagai perbanding-an. Contoh kasus itu bisa yang berskala besar maupun kecil.
Salah satu target dari topik e-commerce dalam bingkai CSA 2 ini, menurut Artini Rachman, Market Development Manager Lintasarta, adalah e-commerce bisa diterapkan dalam program Desa Pinter (Desa Punya Internet) yang juga menjadi salah satu topik dalam CSA 2. “Dengan adanya e-commerce, diharapkan UKM dan koperasi di pedesaan dapat berperan aktif untuk memperluas pangsa pasarnya ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke luar negeri sekalipun,” ujar Artini.
CSA 2 yang sedang berjalan ini juga tengah berjalan sangat baik. Hingga saat ini, dari empat tema yang diusung, sudah terhimpun sekitar 200 ide dengan jumlah anggota mencapai 2.500 orang. Apabila jumlah ini digabung-kan dengan anggota pada CSA 1, maka jumlah anggota saat ini mencapai 12.500 orang.
Nah, bagi Anda yang senang berbelanja lewat internet, tidak ada salahnya meng-ungkapkan cerita menarik dan pengalaman saat berbelanja itu. Siapa tahu, ide yang Anda tawarkan merupakan pencerahan bagi perkembangan e-commerce yang lebih baik di Indonesia. www.creativesolutionsaward.com I
Back